Infobiz.co.id

Infobiz.co.id Situs Berita Seputar Teknologi Terbaru, Informasi Games Terupdate, Keamanan Digital, Aplikasi Dan Cyber Attack Reporting.

Faktor Keberhasilan dan Kegagalan dalam Pernikahan

Faktor Keberhasilan dan Kegagalan dalam Pernikahan

            Latar belakang sifat-sifat kepribadian seseorang akhir-akhir ini merupakan faktor-faktor yang menentukan keberhasilan dan kegagalan pernikahan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan bahwa faktor-faktor keberhasilan dari sifat-sifat wanita diantaranya adalah sikap, murah hati, mampu bekerja sama, dan hemat. Sementara sifat laki-laki yang menunjang keberhasilan pernikahan tersebut  diantaranya adalah kestabilan emosi, mampu bekerja sama, dan konservatif. Sedangkan faktor yang paling menentukan dalam kegagalan pernikahan adalah bahwa seseorang tidak mampu untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang baru melalui proses pernikahan ini. Mungkin saja tahapan dalam proses menuju ke jenjang pernikahan tidak dilakui sebelumnya. Lihat paparan tentang tahapan untuk menuju ke jenjang pernikahan pada awal pembahasan kegiatan belajar 1 (satu) ini. Lewis M Terman dalam Sweedlun dan Crawford (1956) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang menentukan keberhasilan pernikahan seseorang adalah (1) kebahagiaan pernikahan orang tua, (2) kebahagiaan dimasa kanak-kanak, (3) tidak sering terjadi konflik dengan ibu, (4) disiplin dalam rumah diwaktu kecil, (5) dekat dengan ibu, (6) dekat dengan ayah, (7) tidak sering terjadi konflik dengan ayah (8) keterusterangan orang tua tentang seks, (9) tidak sering terjadi hukuman dalam rumah diwaktu kecil.

  1. Sistem Kekerabatan dan Garis Keturunan

            Dalam kehidupan bermasyarakat biasanya diatur oleh adat istiadat atau aturan-aturan yang berlaku di masyarakat itu. Salah satu aspek kehhidupan masyarakat yang diatur diantaranya adalah organisasi sosial. Organisasi sosial yang paling dekat dan biasa diterapkan dalam masyarakat kita ini adalah sistem kekerabatan dan garis keturunannya, yang terdiri atas keluarga yang dekat dan kaum kerabat lain.

            Menurut R.M Keesiing dan P.M Keesing (1971) bahwa sistem kekerabata dan garis keturunan merujuk pada keterkaitan darah. Keluarga kita memiliki hubungan darah dengan kita, tetapi keluarga istri tidak memiliki hubungan darah tetapi terikat oleh hubungan perkawinan. Selanjutnya S. Belen (1991) menjelaskan bahwa ada tiga macam sistem kekerabatan yang dikenal dalam masyarakat indonesia, yaitu sistem kekerabatan bilateral, sistem kekerabatan dan garis keturunan patrilineal, serta sistem kekerabatan dan garis keturunan matrilineal.

            Sistem kekerabatan bilateral atau parental ini (kata parens berasal dari kata Latin yang artinya orang tua, ayah dan ibu) hubungan kekerabatan dan garis keturunan seseorang ditentukan berdasarkan atas kekerabatan dan garis keturunan ayah maupun kekerabatandan garis ibu serta kerabat-kerabatnya. Hubungan kekerabatan dan garis keturunan menurut sistem bilateral ini tak dapat diusut terlalu jauh.

POS-POS TERBARU

 

infobiz

Kembali ke atas