HUKUM SYARA

HUKUM SYARA

HUKUM SYARA

HUKUM SYARA
HUKUM SYARA

1. Pengertian Hukum syara

Hukum syara adalah seperangkat peraturan berdasarkan ketentuan Allah tentang tingkah laku manusia yang diakui dan diyakini berlaku serta mengikat untuk semua umat yang beragama Islam.

2. Pembagian Hukum Syara

Hukum syara terbagi dua macam:
a. Hukum taklifi adalah firman Allah yang menuntut manusia untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu atau memilih antara berbuat atau meninggalkan.
b. Hukum wadh’i adalah firman Allah swt. yang menuntuk untuk menjadikan sesuatu sebab, syarat atau penghalang dari sesuatu yang lain.

Baca Juga: Kalimat Syahadat

HUKUM TAKLIFI

1. Wajib

a. Pengertian wajib

Wajib secara etimologi adalah tetap atau pasti. Sedangkan secara terminologi, seperti yang dikemukakan Abdul Karim Zaidan, Ahli Hukum Islam Irak, wajib berarti:
Sesuatu yang diperintahkan /diharuskan oleh Allah dan RasulNya untuk dilaksanakan oleh orang mukallaf (objek hukum)dan apabila dilaksanakan akan mendapat pahala dari Allah, sebaliknya jika tidak dilaksanakan diancam dosa.
Ulama Jumhur berpendapat bahwa wajib sama dengan fardhu dalam berbagai masalah kecuali dalam satu hal yaitu dalam masalah ibadah haji. Sedangkan menurut ulama Hanafiyah Fardhu adalah tuntutan untuk bertindak dalam bentuk pasti dan tuntutan itu ditetapkan dengan dalil yang Qath’i serta tidak mengandung keraguan sedangkan wajib ditetapkan dengan dalil Zhanni tetapi masih mengandung keraguan.

b. Pembagian Wajib

1. Dari segi waktu pelaksanaannya
· Wajib Muthlaq: Kewajiban yang tidak ditentukan waktu pelaksanaannya. Contoh: Mengqadha puasa Ramadhan yang tertinggal, membayar kafarah sumpah.
· Wajib Muaqqad: kewajiban yang pelaksanaannya ditentukan dalam waktu yang tertentu dan tidak sah dilakukan diluar waktu yang telah ditentukan. Jenis wajib ini dibagi menjadi 3, yaitu:
a. Wajib Muwassa’: Kewajiban yang waktu yang disediakan untuk melakukannya melebihi waktu pelaksanaannya. Contoh: Shalat Dzuhur.
b. Wajib Mudhayyaq: Kewajiban yang sama waktu pelaksanaannya dengan waktu yang disediakan. Contoh: Puasa Ramadhan.
c. Wajib Dzu Syabhaini: gabungan antara wajib Muwassa’ dengan wajib Mudhayyaq. Contoh: Ibadah haji.

2. Dari segi Pelaksana

· Wajib ‘Aini: Kewajiban secara pribadi yang tidak mungkin dilakukan orang lain atau karena orang lain. Contoh: puasa dan shalat.
· Wajib Kafa’i/Kifayah: Kewajiban bersifat kelompok yang apabila tidak seorang pun melakukannya maka berdosa semuanya dan jika beberapa orang yang melakukannya maka gugur kewajibannya. Contoh: shalat jenazah.

3. Dari segi kadar yang dituntut

· Wajib Muhaddad: kewajiban yang harus sesuai dengan kadar yang ditentukan. Contoh: zakat.
· Wajib Ghairu Muhaddad: kewajiban yang tidak ditentukan kadarnya. Contoh: menafkahi kerabat.

4. Dari segi kandungan perintah

· Wajib Mu’ayyan: kewajiban yang telah ditentukan dan tidak ada pilihan lain. Contoh: membayar zakat, shalat lima waktu.
· Wajib Mukhayyar: kewajiban yang objeknya boleh dipilih antara beberapa alternatif. Contoh: kafarah pelanggaran sumpah (Al Maidah:89).

Artinya: “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin,”