Kajian Dalam Budaya Adalah

Kajian Dalam Budaya Adalah

Kajian Dalam Budaya Adalah

Kajian Dalam Budaya Adalah
Kajian Dalam Budaya Adalah

 

Dunia yang luas terdiri dari berbagai negara

Tentu saja memiliki beraneka ragam corak budaya. Indonesia termasuk di dalamnya yang memberikan corak budya tersendiri. Faktor geografis merupakan salah satu faktor mengapa Indonesia memiliki beranekaragam budaya. Luas Indonesia yang sebagian besar adalah luas lautan menjadikan wilayah Indonesia secara topografi terpisah menjadikan ciri khas atau perbedaan budaya dari masing- masing daerah. Budaya antar wilayah Indonesia berbeda melainkan tetap dalam satuan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beragam budaya yang dimiliki adalah tantangan tersendiri untuk bangsa Indonesia.

Tetap utuh terjaga dan menghargai perbedaan di era globalisasi. Globalisasi membawa dampak tersendiri bagi kebudayaan Indonesia. Kemajuan IPTEK dan transportasi membuat seseorang ingin tahu mengenai kebudayaan di negri sendiri dan negeri seberang. Kita dapat melihat dari arus pariwisata. Turis asing yang begitu antusias mendatangi tempat pariwisata di Indonesia yang di dalamnya terdapat wisata budaya. Kota yang mewakili seperti Bali dan Yogyakarta. Tidak tanggung- tanggung ada yang tinggal dalam beberapa waktu yang lama agar mereka mampu mempelajari kebudayaan wilayah setempat. Hal ini akan menjadi ironis mengingat bangsa Indonesia yang justru enggan mempelajari bahkan mempertahankan kebudayaannya sendiri dan telah terjadi westernisasi. Saat ini yang menjadi pertanyaan mampukah bangsa Indonesia menjaga kekayaan budaya  yang ada?

Pentingnya mempelajari budaya yang ada dalam rangka melestarikan dan memahami kebudayaan Indonesia agar tetap terjaga, dari Sabang sampai Merauke. Sosialisasi tentang budaya sampai tahap internalisasi seharusnya diikuti dengan adanya kajian budaya.

Kajian budaya merupakan suatu konsep budaya yang dapat dipahami seiring dengan perubahan perilaku dan struktur masyarakat. Berbicara tentang cultural studies atau yang kita kenal sebagai studi kajian budaya, di wilayah barat perhatian kita tidak dapat dilepaskan dari dasar suatu pengetahuan yang disesuaikan dengan konteks keadaan dan kondisi etnografi serta kebudayaan mereka dan untuk wilayah timur kajian budaya digunakan untuk untuk meneliti dan menelaah konteks sosial di tempat-tempat yang jarang disentuh para praktisi. Kajian budaya tidak hanya berpusat dalam satu titik saja namun kajian budaya mengkomposisikan berbagai kajian teoritis disiplin ilmu lain yang dikembangkan secara lebih longgar sehingga mencakup potongan-potongan model dari teori yang sudah ada.

 

Cultural Studies

Terjemahan bebas cultural studies adalah kajian tentang budaya. Tetapi para ilmuwan berbeda pendapat soal definisi “budaya”. Ada yang mengatakan sebagai abstraksi perilaku masyarakat. Definisi budaya tertua dari E.B. Taylor menyatakan bahwa budaya adalah keseluruhan hal yang kompleks, termasuk pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, serta kebiasaan lain yang dimiliki manusia. Menurut Clifford Geertz, budaya hanyalah serangkaian cerita mengenai diri kita yang kita ceritakan pada diri kita sendiri.

Sedangkan Raymond Williams, salah satu peletak dasar cultural studies, mengatakan bahwa budaya meliputi organisasi produksi, struktur keluarga, struktur lembaga yang mengekspresikan hubungan sosial, dan bentuk komunikasi anggota masyarakat. Berdasarkan definisi itu, budaya meliputi hampir segala bidang. Begitu juga cultural studies. Ia tak memiliki objek kajian yang baku. Maka, cultural studies berbeda dengan disiplin keilmuan konvensional, seperti filsafat, sosiologi, antropologi, ekonomi, hukum, fisika, biologi, atau kimia yang punya batasan wilayah subjek yang jelas.

Cultural studies itu sendiri mempunyai beberapa definisi sebagaimana dinyatakan oleh Barker (via Storey, 2003), antara lain yaitu sebagai kajian yang memiliki perhatian pada:

  1. Hubungan atau relasi antara kebudayaan dan kekuasaan;
  2. Seluruh praktik, institusi dan sistem klasifikasi yang tertanam dalam nilai-nilai partikular, kepercayaan, kompetensi, kebiasaan hidup, dan bentuk-bentuk perilaku yang biasa dari sebuah populasi berbagai kaitan antara bentuk-bentuk kekuasaan gender, ras, kelas, kolonialisme dan sebagainya dengan pengembangan cara-cara berpikir tentang kebudayaan dan kekuasaan yang bisa digunakan oleh agen-agen dalam mengejar perubahan berbagai kaitan wacana di luar dunia akademis dengan gerakan-gerakan sosial dan politik, para pekerja di lembagalembaga kebudayaan, dan manajemen kebudayaan.
  3. Cultural studies adalah suatu arena interdisipliner dimana perspektif dari disiplin yang berlainan secara selektif dapat digunakan untuk menguji hubungan kebudayaan dengan kekuasaan.
  4. Cultural studies terkait dengan semua pihak, institusi dan sistem klasifikasi tempat tertanamnya nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan, kompetensi-kompetensi, rutinitas kehidupan dan bentuk-bentuk kebiasaan perilaku masyarakat.

Penjelasan menurut Chris Barker, profesor ilmu komunikasi di University of Wollongong, Australia, cultural studies memiliki sifat antidisiplin sekaligus multidisiplin. Dikatakan antidisiplin karena cara penyelidikannya tak mengikuti aturan standar seperti diterapkan pada disiplin ilmu lain. Disebut multidisiplin karena ia mencakup banyak hal, berisi berbagai perspektif yang bersaing. Dalam wilayah akademis, cultural studies mempelajari kebudayaan sebagai praktek pemaknaan dalam konteks kekuasaan sosial. Dalam operasinya, ia menggunakan beragam teori, termasuk marxisme, strukturalisme, pascastrukturalisme, dan feminisme. Dengan metode yang eklektis, cultural studies menegaskan posisionalitas semua pengetahuan, termasuk dirinya sendiri, yang berputar di sekitar ide-ide kunci seperti budaya, praktek pemaknaan, representasi, wacana, kekuasaan, artikulasi, teks, pembaca, dan konsumsi.

Wajar jika banyak akademisi tak mengakui cultural studies sebagai disiplin ilmu. Ia konvensi bagi usaha intelektual yang menggeluti berbagai persoalan dari banyak posisi teoretis dan politis yang berbeda-beda. Kelebihannya, ia menawarkan fleksibilitas untuk bergerak dari disiplin ke disiplin dan dari satu metodologi ke metodologi lain sesuai minat, kebutuhan, dan motivasi. Walaupun berpredikat sebagai praktek intelektual yang multidisiplin, antidisiplin, dan sulit terdefinisi, Barker mengklaim bahwa kajian ini bukan berarti tak memiliki acuan sedikit pun. Ia memberikan beberapa karakteristik. Pertama, relasi kuasa. Cultural studies bertujuan mengungkapkan bagaimana hubungan kekuasaan memberikan dampak luas dan membentuk praktek kebudayaan.

 

Contoh sederhana bisa dilihat pada relasi antara budaya seni dan kelas. Barker mengikuti Pierre Bourdieu (1984) yang secara saksama menunjukkan hubungan kompleks antara kekuasaan sosial dan penggunaan produk kebudayaan oleh kelompok sosial yang berbeda. Bourdieu memperlihatkan bagaimana pengunjung galeri seni terbagi menurut tingkatan kelas dan pendidikan.

Galeri seni, bagi Bourdieu, diperuntukkan bagi kelas berbudaya dengan hak-hak istimewa. Selanjutnya, perbedaan hak ini dilegitimasi dengan pembedaan cita rasa antara yang baik dan yang buruk, antara yang diperuntukkan bagi kelas pekerja dan kelas konglomerat. Kedua, cultural studies tak independen, terpisah, dan menyendiri dari budaya, melainkan inheren dalam objek kajiannya. Ia bertujuan memahami kompleksitas budaya dan menganalisis konteks sosial dan politik tempat budaya mengejawantahkan diri. Ketiga, cultural studies memiliki fungsi ganda. Selain sebagai objek studi, juga sebagai media tindakan kritisisme politik. Tujuannya menjadi usaha intelektual sekaligus usaha pragmatis. Keempat, cultural studies antispesialisasi. Ketika sifat solidaritas organik masyarakat modern menuntut adanya spesialisasi dan pemilahan ilmu pengetahuan, ia malah melakukan penyatuan dan mengatasi perpecahan itu. Ia ingin membentuk identitas dan kepentingan bersama dalam hubungan antara yang mengamati dan yang diamati, antara yang mengetahui dan yang diketahui.

Karakteristik terakhir, dengan melakukan evaluasi moral atas masyarakat modern, cultural studies bertujuan mengubah struktur dominasi, terutama dalam struktur masyarakat kapitalis industrial. Ia bukanlah tradisi intelektual bebas nilai yang mengabaikan atau mendukung penindasan. Melainkan tradisi yang memiliki komitmen bagi rekonstruksi sosial dengan terjun ke dalam praktek politik.

Sejarah Culture Studies

Kajian budaya sebagai suatu disiplin ilmu (akademik) yang mulai berkembang di wilayah Barat (1960-an), seperti Inggris, Amerika, Eropa (kontinental), dan Australia mendasarkan suatu pengetahuan yang disesuaikan dengan konteks keadaan dan kondisi etnografi serta kebudayaan mereka. Pada tahap kelanjutannya di era awal abad 21 kajian budaya dipakai di wilayah Timur untuk meneliti dan menelaah konteks sosial di tempat-tempat yang jarang disentuh para praktisi kajian budaya Barat, antara lain Afrika, Asia, atau Amerika Latin.

Secara institusional, kajian budaya menelurkan berbagai karya berupa buku-buku, jurnal, diktat, matakuliah bahkan jurusan di universitas-universitas. Istilah cultural studies relatif masih baru. Berasal dari Centre for Contemporary Cultural Studies (CCCS) Universitas Birmingham, Inggris, yang berdiri pada 1964. Awal kemunculannya berpijak pada tulisan para penggagasnya: Richard Hoggart, Raymond Williams, E.P. Thomson, dan Stuard Hall. Pada 1972, untuk meletakkan cultural studies dalam wacana intelektual Inggris, CCCS menerbitkan edisi perdana Working Papers in Cultural Studies.

Konsep Culture Studies

Kebudayaan dan praktik signifikasi

Cultural studies tidak akan mampu mempertahankan namanya tanpa fokus pada kebudayaan. Yang dimaksud dengan kebudayaan disini adalah lingkungan actual untuk berbagai praktik, representasi, bahasa dan adat-istiadat masyarakat tertentu. Cultural studies menyatakan bahwa bahasa bukanlah media netral bagi pembentukan makna dan pengetahuan tentang dunia objek independen yang ada diluar bahasa, tapi ia merupakan bagian utama dari makna dan pengetahuan tersebut.

Sumber : https://blog.dcc.ac.id/bpupki-sejarah-anggota-tugas-dan-pembentukannya/