Mengenalkan Kebinekaan pada Anak, Bekal Bangun Toleransi

Mengenalkan Kebinekaan pada Anak, Bekal Bangun Toleransi

Mengenalkan Kebinekaan pada Anak, Bekal Bangun Toleransi

Mengenalkan Kebinekaan pada Anak, Bekal Bangun Toleransi
Mengenalkan Kebinekaan pada Anak, Bekal Bangun Toleransi

Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetapi tetap satu. Semboyan negara Indonesia itu biasa didengungkan di sekolah. Bagaimana memberikan pengertian soal itu kepada anak-anak agar memahami makna indahnya dengan benar, tidak sekadar menghafalkannya?

SEJAK dini, anak bisa mengenali perbedaan. Menurut psikolog Fransisca L.H. MPsi, si kecil bahkan memiliki kemampuan tersebut sejak berada dalam kandungan. ’’Saat berada di dalam kandungan, anak merekam suara orang yang sering didengar. Makanya, ketika lahir, bayi sudah bisa lebih dekat kepada ibu dan ayah ketimbang orang luar,’’ terangnya.

Seiring dengan bertambahnya usia, anak akan mulai mengenali wajah dan watak dalam konsep yang lebih sederhana. Anak mulai dapat membedakan perbedaan beberapa orang yang dikenal. Misalnya, saat bersama si A, dia merasa nyaman. Sebaliknya, ketika bareng si B, dia murung atau marah.

Psikolog di SD SAIM Surabaya itu menuturkan, anak mulai memahami konsep perbedaan yang riil pada usia 3 tahun yang merupakan awal periode sosialisasi. Si kecil juga memahami identitas dirinya. Memasuki usia tersebut, orang tua sebaiknya mulai memfasilitasi. ’’Misalnya, diajak ke playground atau tempat umum yang memungkinkan anak bertemu dengan banyak orang dari latar belakang berbeda,’’ ujarnya.

Bunda dan ayah bisa mengamati respons anak saat menjumpai individu yang berbeda, baik dari segi penampilan, cara bicara, maupun hal yang lebih spesifik seperti suku atau agama.
Sisca menyatakan, ada dua kemungkinan yang muncul. Pertama, anak tetap santai dan terlihat biasa. Kedua, anak kaget, kemudian cenderung waspada.

Alumnus Universitas Airlangga itu menjelaskan, kuncinya ada pada pembiasaan. Jika tinggal di lingkungan heterogen, si kecil biasanya lebih tenang dan tidak kaget menghadapi perbedaan. ’’Orang tua juga pegang peranan. Kalau ayah-ibunya fleksibel dan bisa adaptasi, anak bakal mengikuti. Namun, jika orang tua sulit beradaptasi, anak akan ikut-ikutan kaku,’’ kata Sisca.

Di lingkungan baru, anak biasanya mulai banyak bertanya atau berkomentar. Misalnya,

kenapa seseorang beribadah di masjid, tetapi ada yang di gereja atau pura? Atau, bertanya tentang perbedaan warna kulit maupun bentuk mata.

Jony Eko Yulianto SPsi MA menyebut hal tersebut terbilang wajar. Menurut dia, orang tua tidak perlu bereaksi keras ketika anak mengkritisi lingkungan sekitar. ’’Anak perlu punya pengalaman menghadapi orang-orang dengan latar belakang berbeda. Berinteraksi dengan beragam individu bisa meminimalkan terbentuknya bias atau sentimen terhadap salah satu kelompok,’’ jelas Jony.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ciputra itu mengungkapkan, bila tidak memilik

i pengalaman tersebut, anak bakal tumbuh sebagai seseorang yang punya toleransi rendah. Tidak tertutup kemungkinan, anak akan menjadi seorang yang etnosentrisme.

’’Etnosentrisme ditandai dengan kebanggaan berlebih pada latar belakangnya. Orang-orang ini cenderung memandang rendah kelompok lain. Cuma kelompoknya yang superior,’’ papar Jony.

Efeknya, anak sulit beradaptasi dan kurang memiliki toleransi pada keberagaman. Hal itu

bakal merugikan masa depan anak, terutama pada masa globalisasi seperti sekarang.

Jony menuturkan, globalisasi memudahkan individu bekerja atau pindah ke luar daerah atau luar negeri. ’’Kalau tidak dibekali pemahaman tentang cara menghadapi perbedaan atau social skill lainnya, anak akan sulit beradaptasi. Lebih buruk lagi, mereka bisa paranoid pada lingkungan barunya,’’ tegas Jony. (*)

 

Sumber :

https://www.givology.org/~danuaji/blog/694053/