Nasionalisme Adalah

Nasionalisme Adalah

Nasionalisme Adalah

Nasionalisme Adalah
Nasionalisme Adalah

 

Nasionalisme semula adalah

Gagasan mengenai kesatuan kebangsaan dalam suatu wilayah politik kenegaraan. Teori politik, membagi manusia ke dalam berbagai bangsa, dan nasionalisme sebagai nilai rohaniah yang mendorong kehendak untuk hidup sebagai satu bangsa serta mempertahankan kelangsunganhidup kebangsaannya itu.

Nasionalisme Indonesia adalah

Sebuah nasionalisme bentukan, sebuah kesadaran akan identitas bangsa sebagai hasil konstruksi karena pengalaman penderitaan dan diskriminasi oleh bangsa kolonial Belanda. Itulah nasionalisme awal Indonesia, yakni sebuah penegasan akan identitas diri versus kolonialisme-imperialisme.

Dalam sejarah Indonesia, nasionalisme sangat penting

Misalnya sebagai ideologi pemersatu untuk melawan penjajah Belanda atau Jepang. Pada akhirnya tinjauan sejarah politik sampai pada kesimpulan, bahwa dorongan nasionalisme yang sekian lama dipupuk dan diperjuangkan berhasil menciptakan sebuah bangsa, sebagai sebuah kesatuan yang membedakan diri dari kesatuan politik lain, dan sebuah negara sebagai lembaga kekuasaan. Tinjauan sejarah sosio-kultural memperlihatkan bahwa kekuatan daya dorong nasionalisme yang dilahirkan dalam suasana kebudayaan bazaar dari komunitas orang-orang asing akhirnya menciptakan sebuah komunitas bangsa. Inilah komunitas yang dibayangkan oleh “para perantau” yang pernah secara konseptual menjadi penghunni “komunitas orang-orang asing”. Jadi proses pembentukan bangsa dan negara Indonesia adalah sebagai pergumulan munculnya nasionalisme yang lain membentuk sebuah bangsa dalam wadah negara yang berdaulat. Selanjutnya nasionalisme Indonesia melahirkan Pancasila sebagai ideologi negara.

 

Nasionalisme muncul dari kehendak untuk merdeka

Dari penjajahan bangsa lain serta persamaan nasib bangsa yang bersangkutan, sebagaimana yang ditegaskan oleh Ernest Renan, Otto Bauwer dan Petter Tomasoa. Namun di era modern konsep itu tidak lagi sepenuhnya bisa diterima. Gagasan nasionalisme awal hanya terpaku pada kehendak untuk merdeka atau “nasionalisme yang ingin memiliki negara”. Namun bila kemerdekaan sudah tecapai secara perlahan akan lenyaplah nasionalisme tersebut.

Nasionalisme

Nasionalisme berasal dari kata nation (Inggris) dan natie (Belanda), yang berarti bangsa. Bangsa adalah sekelompok masyarakat yang mendiami wilayah tertentu dan memiliki hasrat serta kemampuan untuk bersatu, karena adanya persamaan nasib, cita-cita, dan tujuan. Sedangkan nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.

Slamet Mulyana (1986) menyatakan bahwa nasionalisme adalah manifestasi kesadaran berbangsa dan bernegara atau semangat bernegara. Hans Kohn (1986), menyatakan bahwa nasionalisme adalah suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan. Kohn membedakan antara dua konsep nasionalisme. Pertama, nasionalisme sebagai konsep politik atau suatu yang secara sukarela (volunteer) seseorang menjadi anggotanya. Menurut konsep ini, nasionalisme merupakan suatu bentuk kontraktual dari para anggotanya. Kedua, konsep nasionalisme sebagai konsep yang organik atau irasional.

Anthony Smith, seorang penganut konsep organis mengenai nasionalisme

Berpendapat bahwa seorang individu tidak mempunyai arti terlepas dari masyarakatnya sejak lahir. Individualitas hanya mempunyai arti di dalam kaitannya dengan masyarakat atau komunitasnya. Dengan kata lain, setiap individu  mempunyai kesejarahan hidup yaitu dia menjadi seseorang, satu bagian yang organis dari lingkungannya, serta mempunyai kemantapan hidup yang diperolehnya dari komunitasnya, yaitu sejarah, agama, bahasa, dan adat-istiadat. Bangsa, oleh sebab itu, merupakan suatu keseluruhan yang alamiah dari seseorang yang daripadanyalah seorang individu memperoleh realitasnya. Oleh karena itu seseorang dapat dibedakan nasionalitasnya dan baru kemudian dikenal sebagai anggota masyarakatnya. Menghilangkan masyarakat dalam pengertian masyarakat yang besar berarti menghilangkan individualitas seseorang. Pakar Ernest Gelner menolak pendapat nasionalitas atau nasionalisme sebagai sesuatu yang alamiah atau primordial. Kewarganegaraan merupakan suatu keanggotaan moral dari suatu masyarakat modern. Keanggotaan itu diperolehnya melalui pendidikan nasional dan biasanya menggunakan bahasa yang dipilih sebagai bahasa ibu atau bahasa nasional.

Benedict Anderson melihat nasionalisme sebagai sebuah ide

Komunitas yang dibayangkan (imagined communities). Menurutnya, nasionalisme adalah sebuah komunitas politik berbayang yang dibayangkan sebagai kesatuan yang terbatas dan kekuasaan yang tertinggi. Maksud dari berbayang adalah anggota suatu negara atau bangsa hanya mengetahui dan mampu membayangkan komunitasnya (negaranya), akan tetapi tidak semua dari mereka saling mengenal. Dibayangkan karena setiap anggota dari suatu bangsa, bahkan bangsa yang terkecil sekalipun, tidak mengenal seluruh anggota dari bangsa tersebut. Bangsa dibayangkan sebagai kekuasaan tertinggi karena hal tersebut matang di panggung sejarah manusia ketika kebebasan adalah suatu hal yang langka dan secara idealis berharga. Bangsa dibayangkan sebagai komunitas karena dipahami sebagai sebuah persahabatan horizontal yang dalam.

Nasionalisme berakar dari sistem budaya suatu kelompok masyarakat yang tidak saling mengenal satu sama lain. Kebersamaan mereka yang timbul karena konstruksi komunitas melalui khayalan menjadi dasar nasionalisme. Nasionalisme hidup dari bayangan tentang komunitas yang senantiasa hadir dipikiran setiap anggota bangsa yang menjadi referensi identitas sosial.

 

Peran Bahasa, Budaya, dan Pendidikan dalam Nasionalisme

Beberapa faktor penting dalam memunculkan/menumbuhkan nasionalisme adalah bahasa, budaya, dan pendidikan. Bagaimana peranan bahasa di dalam mempersatukan suku-suku di Indonesia? Kita masih ingat di dalam Sumpah Pemuda mengenai bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Di dalam hal ini benar ungkapan yang mengatakan “Bahasa menunjukkan bangsa”. Berpuluh-puluh tahun silam nyaris tidak satu orang pun yang berbicara dalam bahasa Indonesia sebagai bahasa ibunya. Bisa dikatakan semua orang punya bahasa ‘etnis’nya sendiri. Tapi sekarang mungkin ada banyak anak muda Indonesia, dengan latar belakang etnolinguistik yang berlusin-lusin jenisnya, bicara dalam bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu mereka. Sifat bahasa apa pun, yang terpenting adalah kemampuannya untuk membuahkan komunitas-komunitas terbayang, dan selanjutnya membangun solidaritas partikular. Dahulu, bahasa Indonesia dipergunakan oleh kaum terpelajar melalui bahasa-cetak dalam usaha mereka mempropagandakan komunitas terbayang.

Baca Juga :