Infobiz.co.id

Infobiz.co.id Situs Berita Seputar Teknologi Terbaru, Informasi Games Terupdate, Keamanan Digital, Aplikasi Dan Cyber Attack Reporting.

Pameran Baju Penyintas Kekerasan Seksual Berupaya Hapus Stigma

Pameran Baju Penyintas Kekerasan Seksual Berupaya Hapus Stigma

Pameran Baju Penyintas Kekerasan Seksual BerupPameran Baju Penyintas Kekerasan Seksual Berupaya Hapus Stigmaaya Hapus Stigma
Pameran Baju Penyintas Kekerasan Seksual Berupaya Hapus Stigma

Di Indonesia, masih banyak korban kekerasan seksual yang disalahkan karena pakaiannya. Namun, betulkah baju korban memicu kekerasan seksual? Sebuah pameran baju di kota Bandung, Jawa Barat, berusaha menjawabnya.
BANDUNG —

Memasuki pameran pakaian penyintas kekerasan seksual di Bandung, kita akan disuguhi dua belas baju yang dipakai orang-orang saat jadi korban. Para penyintas ini ada yang diraba-raba orang asing, bahkan diperkosa orang dekat sendiri.

Baju-baju penyintas dipasang sebagai setelan lengkap dari kepala sampai kaki. Salah satu baju berupa kemeja kotak-kotak lengan panjang, celana jins panjang, dan kerudung hitam. Sementara yang lain adalah paduan baju gombrang warna biru, celana longgar warna hitam, ditambah kerudung motif bunga.
Setidaknya 12 setel baju dipajang dalam pameran pakaian penyintas kekerasan seksual. Menurut penyelenggara, mayoritas baju masuk kategori tertutup namun tetap jadi korban (foto: VOA/Rio Tuasikal)
Setidaknya 12 setel baju dipajang dalam pameran pakaian penyintas kekerasan seksual. Menurut penyelenggara, mayoritas baju masuk kategori tertutup namun tetap jadi korban (foto: VOA/Rio Tuasikal)

Nurul Fasivica, dari gerakan Melek Bersama, menjelaskan, pakaian-pakaian ini sudah tertutup. Namun tetap saja para perempuan ini jadi korban kekerasan seksual. Karena itu, pakaian ini mendobrak anggapan di masyarakat bahwa korban kekerasan seksual biasanya berpakaian terbuka.
Nurul Fasivica dari Melek Bersama berharap, lewat pameran ini, masyarakat umum akan lebih terbuka membicarakan kekerasan seksual (foto: VOA/Rio Tuasikal)
Nurul Fasivica dari Melek Bersama berharap, lewat pameran ini, masyarakat umum akan lebih terbuka membicarakan kekerasan seksual (foto: VOA/Rio Tuasikal)

“Jadi ini bener-bener kita nge-breakdown yang masyarakat pikir, engga cuma yang bajunya terbuka. Enggak sama sekali. Itu yang bajunya ketutup banyak banget,” ujarnya kepada VOA saat ditemui di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Minggu (24/3/2019) sore.
Pameran Baju Penyintas Kekerasan Seksual Berupaya Hapus Stigma
Embed share
Pameran Baju Penyintas Kekerasan Seksual Berupaya Hapus Stigma
by VOA Indonesia
Embed share
The code has been copied to your clipboard.
The URL has been copied to your clipboard

Teruskan di Facebook
Teruskan di Twitter

No media source currently available
0:00 5:22
0:00
Unduh

Dari dua belas setel baju yang dipajang, 8 diantaranya adalah celana panjang dan berkerudung.

Setiap setelan baju ditampilkan dengan penuturan korban mengenai kekerasan seksual yang dialami.

Ada dua baju tidur yang ikut dipajang. Rupanya pelaku kekerasan seksual adalah keluarganya sendiri.

“Kejadiannya di rumah. Sama kakaknya, sama bapaknya, sama pacarnya, sama oomnya. Itu

orang terdekat bukan sama orang asing. Yang masyarakat pikir kalau diperkosa itu cuma sama orang asing, sexual harassment itu cuma dilakukan sama orang asing, enggak, malah lebih banyak sama orang terdekat,” tambah Vica yang aktif di Padjadjaran Resource Center on Gender and Human Rights Studies (Pad GHRS).

Salah satu penyintas yang enggan disebutkan namanya bercerita, dia membagi kisahnya supaya memberdayakan penyintas lain.

“Karena aku pengen cerita aku empowering teman-teman yang lain, baik perempuan atau siapapun, yang mengalami kekerasan atau pelecehan atau perkosaan. Supaya dia berani speak up. Ada banyak teman yang mau dan akan nemenin dia in this hardship,” ujarnya.

Penyintas ini juga berharap, masyarakat yang mendengar kisahnya bisa tergerak mencegah kekerasan seksual.

“Supaya mereka lebih aware sama kejadian-kejadian yang sudah terjadi itu. Dan semoga

mereka bantu untuk stand with us,” tambahnya.

Pameran ini merupakan bagian dari acara tiga hari berisi diskusi kekerasan seksual. Sejumlah kelompok siswa dan mahasiswa mengikuti upaya edukasi publik ini. Penyelenggara berharap, masyarakat umum akan lebih terbuka membicarakan kekerasan seksual.

“Bikin masyarakat kita woke biar melek, ngomongin kekerasan seksual ngomongin ini tuh nggak tabu ini nggak aneh, ini tuh kejadian nyata bukan cuma diada-adain sama orang,” harap Nurul.

Banyak Anak Muda Belum Dapat Pendidikan Seks

Selain pameran, sebuah pojok lesehan dibuka untuk konsultasi kesehatan reproduksi (kespro) dan seks. Lesehan ini menyediakan banyak alat peraga, alat kontrasepsi, dan informasi infeksi menular seksual (IMS)

Putri Widi Saraswati, dokter yang melayani para pengunjung, bercerita banyak anak muda yang belum memahami seks dan kespro secara komprehensif.

 

Sumber :

https://www.behance.net/ojelhtcman4fb2

infobiz

Kembali ke atas