Infobiz.co.id

Infobiz.co.id Situs Berita Seputar Teknologi Terbaru, Informasi Games Terupdate, Keamanan Digital, Aplikasi Dan Cyber Attack Reporting.

 Pendidikan Seni Tari

 Pendidikan Seni Tari

Studi terhadap dunia anak yang secara gencar dilakukan pada penghujung abad ke 19 (Mac Donald 1970: 38) menyadarkan orang bahwa anak merupakan pribadi yang unik yang memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda dengan orang dewasa. Salah satu bentuk dan kemampuan anak yang khas tersebut adalah dalam hal mengekspresikan diri.

Disadarinya kebutuhan anak untuk mengekspresikan rasa keindahan, mendorong pendidik untuk menyediakan fasilitas berupa kegiatan yang memungkinkan anak untuk secara lancar dapat mengungkapkan rasa keindahan serta juga dapat mengapresiasikan gejala keindahan yang ada disekelilingnya. Kegiatan untuk memfasilitasi anak dalam diri inilah yang ditawarkan oleh pendidikan seni, khususnya di sekolah. Jelaslah, pendidikan seni dalam konteks ini, hadir untuk memenuhi kebutuhan anak yang azasi yang tidak mampu diemban oleh kegiatan lain.

Pendidikan seni yang diajarkan di sekolah saling berkaitan antara seni suara, gerak, rupa dan drama, karena seni memiliki sifat multilingual, multidimensional dan multikultural. Pendidikan seni dapat mengembangkan kemampuan manusia dalam berkomunikasi secara visual atau rupa, bunyi, gerak dan keterpaduannya (Goldberg 1997: 8). Selain itu, pendidikan seni juga dapat menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan berapresiasi terhadap keragaman budaya lokal dan global sebagai pembentukan sikap menghargai, toleran, demokratis, beradab dan hidup rukun dalam masyarakat dan budaya majemuk (Kamaril 2001: 4).

Pendidikan seni sangat penting diberikan sejak anak usia dini. Perkembangan anak usia dini dapat dibagi menjadi lima fase, yaitu fase orok, fase bayi, fase prasekolah (usia Taman Kanak-Kanak), fase anak sekolah (usia anak Sekolah Dasar) dan fase remaja (Yusuf 2001: 149). Salah satu fase perkembangan yang berlangsung dalam kehidupan anak adalah tahap prasekolah yang berlangsung sekitar 2-6 tahun, ketika anak mulai memiliki kesadaran tentang dirinya sebagai pria atau wanita, dapat mengatur diri dalam buang air (toilet training) dan mengenal beberapa hal yang dianggap berbahaya (mencelakakan dirinya) (Yusuf 2001: 162-163). Pada masa usia prasekolah ini, berbagai aspek perkembangan anak sedang berada pada keadaan perubahan yang sangat cepat, baik dalam kemampuan fisik, bahasa, kecerdasan, emosi, sosial dan kepribadian.

Perkembangan motorik anak pada usia ini, ditandai dengan bertambah matangnya perkembangan otak yang mengatur sistem syaraf otot (neoromuskuler), sehingga memungkinkan anak lebih lincah dan aktif bergerak. Dalam masa ini tampak adanya perubahan dalam gerakan yang semula kasar menjadi lebih halus yang memerlukan kecermatan dan kontrol otot-otot yang lebih halus serta terkoordinir. Untuk melatih ketrampilan dan koordinasi gerakan, dapat dilakukan dengan beberapa permainan dan alat bermain yang sederhana seperti kertas koran, kubus-kubus, bola, balok titian, dan tongkat.

Menurut Yusuf (2001: 164), kemampuan motorik anak dapat dideskripsikan sebagai berikut.Kemampuan motorik kasar usia 3-4 tahun adalah naik turun tangga, meloncat dengan dua kaki, melempar bola, meloncat,sedangkan kemampuan motorik halus anak adalah menggunakan krayon, menggunakan benda/alat, menirukan bentuk (gerakan orang lain). Kemampuan motorik kasar anak usia 4-6 tahun adalah mengendarai sepeda anak, menangkap bola, bermain olah raga. Kemampuan motorik halus anak usia 4-6 tahun adalah menggunakan pensil, menggambar, memotong dengan gunting, menulis huruf cetak.

Sementara itu, gerakan yang sering dilakukan anak-anak dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu (1) motorik statis, yaitu gerakan tubuh sebagai upaya memperoleh keseimbangan gerak pada saat berjalan, (2) motorik ketangkasan, yaitu gerakan untuk melakukan tindakan yang berwujud ketangkasan dan ketrampilan, (3) motorik penguasaan, yaitu gerak yang dilakukan untuk mengendalikan otot-otot tubuh sehingga ekspresi muka terlihat jelas (Zulkipli 1992 : 32).

James Mark Baldwin (dalam Suryabrata 1993: 182-183) menerangkan, perkembangan sebagai proses sosialisasi dalam bentuk imitasi yang berlangsung dengan adaptasi dan seleksi. Adaptasi dan seleksi ini berlangsung atas dasar hukum efek (law of effect). Juga tingkah laku pribadi diterangkan sebagai imitasi. Kebiasaan adalah imitasi terhadap diri sendiri, sedangkan adaptasi adalah peniruan terhadap orang lain.

Mengacu pada pendapat tersebut, Baldwin (dalam Suryabrata 1993: 183-184) membagi proses peniruan menjadi tiga tahap, yaitu: (1) tahap proyektif (projective stage) adalah tahap dimana anak mendapatkan kesan mengenai model (obyek) yang ditiru, (2) tahap subyektif (subjective stage) adalah tahap dimana anak cenderung untuk meniru gerakan-gerakan, atau sikap model atau obyeknya, (3) tahap efektif (efective stage) adalah tahap dimana anak telah menguasai hal yang ditirunya, dia dapat mengerti bagaimana orang merasa, berangan-angan, dan berfikir.

John Martin dalam Soedarsono (1978: 1) menyatakan bahwa substansi baku tari adalah gerak dan ritme. Gerak tidak hanya terdapat di dalam denyutan-denyutan seluruh tubuh manusia untuk tetap dapat memungkinkan manusia hidup, tetapi gerak juga terdapat pada ekspresi dari segala pengalaman emosional. Sach dalam Soedarsono (1978: 1) menyatakan bahwa substansi dasar tari adalah gerak, tetapi gerak-gerak yang ada di dalam tari itu bukanlah gerak yang realistis, melainkan gerak yang telah diberi bentuk ekspresif. Langer (1988: 14) menekankan bentuk ekspresif itu adalah sebuah bentuk yang diciptakan manusia untuk bisa dirasakan (dinikmati dengan rasa).

Pada dasarnya gerak terungkap atau terwujud dengan adanya elemen-elemen dasar dari gerak yang membuat tari dapat menjadi ekspresi seni. Doris Humprey (1983: 23) mengatakan bahwa ruang, waktu dan tenaga adalah elemen-elemen dasar dari gerak. Disamping elemen-elemen dasar gerak, tari juga mengandung nilai-nilai keindahan. Nilai-nilai keindahan ini terletak pada wiraga, wirama dan wirasa (Rusliana 1984: 14-15).

sumber :
https://indrapura.co.id/2020/06/seva-mobil-bekas/

infobiz

Kembali ke atas