Sejarah dan Dasar Hukum Sholat Jumat

Sejarah dan Dasar Hukum Sholat Jumat

Sejarah dan Dasar Hukum Sholat Jumat

Sejarah dan Dasar Hukum Sholat Jumat
Sejarah dan Dasar Hukum Sholat Jumat

 

Banyak sekali muncul pertanyaan dari Sobat kepada admin dari mana sebenarnya sejarah awal adanya Sholat Jumat ini, apa dasar dan hukum mengerjakan Sholat Jumat ? Untuk itu pada postingan kali ini Kumpulan Sejarah akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut dari beberapa sumber yang telah admin rangkum dalam artikel ini.

Sejarah Sholat Jumat

Menurut sebagian riwayat yang ada, kata jumat diambil dari kata jama’ah yang memiliaki arti berkumpul. Yaitu, hari dimana dipertemukannya Nabi Adam dan Siti Hawa di Jabal Rahmah. Kata jumat juga bisa diartikan sebagai waktu berkumpulnya umat Islam untuk melaksanakan kebaikan sehingga tak aneh bila kemudian Allah memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan Sholat Jumat untuk merayakan hari istimewa tersebut.

Dari sumber yang dikutip dari Harian Republika menyebutkan bahwa Perintah Sholat Jumat turun seiring dengan turunnya perintah Sholat lima waktu. Saat itu, Nabi Muhammad SAW masih berada di Makkah. Akibatnya Rasulullah tidak langsung melaksanakan perintah tersebut karena kondisi yang tidak memungkinkan di kota itu. Sholat jumat perdana baru dilaksanakan saat Rasulullah hijrah ke Madinah. Ketika itu, Senin 12 Rabiul Awal 1 Hijriyyah atau 23 September 622 M. Rasulullah dan Abu Bakar As-shidiq menapakkan kaki memasuki desa Quba yang tak jauh dari Madinah. Kedatangan mereka telah ditunggu oleh warga di seluruh kampung. Semua orang berhamburan keluar dari rumah masing-masing ketika mengetahui Rasulullah dan Abu bakar As-shidiq menuju rumah Khubaib bin Yasaf atau Kahrijah bin Zaid di Sunh, sebuah desa yang tak jauh pula dari Madinah.

Satu atau dua hari kemudian, Ali bin Abi Thalib tiba dari Makkah dan menetap di rumah yang sama dengan Rasulullah. Rasulullah berdiam di desa Quba selama empat hari, sejak Senin hingga Kamis. Lalu, atas saran Ammar bin Yasir, beliau mendirikan Masjid Quba. Inilah masjid pertama dalam sejarah Islam. Rasulullah sendiri yang meletakkan batu pertama di kiblat masjid tersebut dan kemudian diikuti oleh Abu Bakar As-shidiq. Lalu diselesaikan beramai-ramai oleh para sahabat lainnya.

Sholat Jumat Pertama

Pada jumat pagi, 16 Rabiul Awal. Rasulullah meninggalkan Quba. Rasulullah dan para sahabat melanjutkan perjalanan ke Madinah. Namun, pada siang hari, mereka berhenti di Lembah Ranuna. diperkampungan Bani Salim bin ‘Auf dari suku Khazraj yang masih berada di sekitar Quba. Mereka kemudian melaksanakan Sholat Jumat untuk pertama kalinya di tempat itu. Sebelum melaksanakan Sholat Jumat, Rasulullah menyampaikan khutbah di depan ratusan jamaah.

Meski 16 Rabiul Awal dianggap sebagai hari dilaksanakannya Sholat perdana namun sejumlah riwayat mengungkapkan bahwa sebelum hari itu, Sholat jumat pernah dilaksanakan oleh umat Islam. Namun, Sholat Jumat itu dipinpin oleh Rasulullah, melainkan As’ad bin Zurarah. Fakta tersebut dikisahkan dalam hadist yang diungkapkan oleh Qutaibah bin Sa’id. Qutaibah menyatakan, setiap kali Ka’ab bin Malik mendengar azan hari jumat, dia akan memohonkan rahmat untuk As’ad bin Zurarah.

“Lantas, aku bertanya kepadanya. Mengapa Anda memohonkan rahmat untuk As’ad bin Zurarah setiap kali mendengar azan jumat ?” Ka’ab pun menjawab, “As’ad adalah orang yang pertama kali melaksanakan Sholat Jumat di tengah-tengah kami di Hazmin-nabit, yang terletak di Bani Bayadhah di Baqi’, yaitu Naqi’ul Khadhamat,”

Qutaibah bertanya lagi,”Berpakah jumlah kalian ketika itu?” Ka’ab menjawab, “Empat puluh orang.”

As’ad dikisahkan mengetahui bahwa perintah untuk melaksanakan Sholat Jumat sampai kepada Rasulullah. Kabar tersebut tersiar ke Madinah, tempat dia berada. Hal inilah yang menjadi dasar baginya untuk melaksanakan Sholat Jumat. Sementara, Rasulullah tidak mungkin melaksanakan Sholat Jumat berjamaah di tengah kondisi Makkah yang tidak kondusif bagi dirinya dan kaum muslim lainnya. Karena itu, Rasulullah baru bisa melaksanakan Sholat jumat ketika beliau hijrah di Madinah.

Setiap hari jumat, Muslim di desa tempat tinggal As’ad akan menuju rumahnya dan berkumpul disana. Mereka lalu menyelenggarakan Sholat dua rakaat. Setelah itu, As’ad memotong kambing untuk di makan bersama.

Dasar Hukum Sholat Jumat

Hukum Sholat Jum’at adalah wajib dengan dasar Al Qur’an, Sunnah dan Ijma’. Adapun dalil dari Al Qur’an adalah firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan Sholat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [Al Jum’ah:9]

Dalam ayat ini Allah memerintahkan untuk menunaikannya, padahal perintah -dalam istilah ushul fiqh- menunjukkan kewajiban. Demikian juga larangan sibuk berjual beli setelah ada panggilan Sholat, menunjukkan kewajibannya; sebab seandainya bukan karena wajib, tentu hal itu tidak dilarang.

Sedangkan dalil dari Sunnah, ialah sabda Rasulullah:

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِينَ

“Hendaklah satu kaum berhenti dari meninggalkan Sholat Jum’at, atau kalau tidak, maka Allah akan mencap hati-hati mereka, kemudian menjadikannya termasuk orang yang lalai.”

Hal ini dikuatkan lagi dengan kesepakatan (Ijma’) kaum muslimin atas kewajibannya, sebagaimana hal itu dinukil para ulama, diantaranya: Ibnu Al Mundzir, Ibnu Qudamahdan  Ibnu Taimiyah.

Baca juga artikel: