TINGKATAN AL-JARH WA AL-TA’DIL

TINGKATAN AL-JARH WA AL-TA’DIL

TINGKATAN AL-JARH WA AL-TA’DIL

 

TINGKATAN AL-JARH WA AL-TA’DIL
TINGKATAN AL-JARH WA AL-TA’DIL

 

Pembagian AL-JARH WA AL-TA’DIL

Ibnu Abi Hatim dalam bagian pendahuluan kitabnya al-jarh wa at-ta’dil telah membagi jarh dan ta’dil menjadi empat macam. Masing-masing tingkatan dijelaskan hukumnya. Lalu para ulama telah menambah lagi dengan dua tingkatan jarh dan ta’dil, sehingga menjadi empat tingkatan, yaitu:

1. TINGKATAN TA’DIL DAN LAFADZ-LAFADZNYA

a). Lafadz yang menunjukan mubalaghah (kelebihan) dalam hal ketsiqahan (keteguhan), atau lafadz yang mengikuti wazan af’ala. Contohnya: fulanun ilaihi al-muntaha fi at-tatsabbut (si Fulan itu paling tinggi keteguhannya), atau fulanun atsbata an-nas (si Fulan itu termasuk orang yang paling teguh).
b). Lafadz yang memperkuat salah satu sifat atau dua sifat tsiqah. Seperti, tsiqatun tsiqah (orang yang sangat-sangat tsiqah), atau tsiqatun tsabitun (orangnya tsiqah dan teguh).
c). Lafadz (ungkapan) yang menunjukan ketsiqahan tanpa ada penguatan. Seperti, tsiqatun (orangnya tsiqah), atau hujjatun (orangnya ahli argumen).d). Lafadz yang menunjukan ta’dil tanpa menampakkan kedlabitan. Seperti, shaduqun (orangnya jujur), atau yang sama kedudukannya dengan shaduq, atau la ba’sa (orangnya tidak punya masalah ­–cacat-) yang diungkapkan selain oleh Ibnu Ma’in, karena kata laba’sa bihi yang ditujukan terhadap rawi dan dikatakan oleh Ibnu Ma’in mempunyai arti tsiqah.
e). Lafadz yang tidak menunjukkan ketsiqahan atau tidak menunjukkan adanya jarh. Contohnya, fulanun syaikhun (si Fulan itu seorang syekh/guru), atau ruwiya ‘anhu an-nas (manusia meriwayatkan dirinya)
f). Lafadz yang mendekati adanya jarh. Seperti, fulanun shalih al-hadis (si Fulan orang yang hadisnya shalih), yuktabu hadistuhu (orang yang Hadisnya dicatat).

2. HUKUM TINGKATAN-TINGKATAN AL-TA’DIL

a). Untuk tiga tingkatan yang pertama, orang-orangnya dapat dijadikan sebagai hujjah, meski sebagian dai mereka kekuatannya berbeda dengan sebagian lainnya.
b). Untuk tingkatan keempat dan kelima, orang-orangnya tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Meski demikian, hadisnya bisa dicatat dan diberitakan, walaupun mereka tergolong tingkatan yang kelima, bukan yang keempat.
c). Untuk tingkatan keenam, orang-orangnya tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Meski demikian hadis-hadis mereka dicatat hanya sebagai pelajaran, bukan sebagai sebuah berita (hadis yang bisa diriwayatkan), ini karena menonjolnya ketidakdlabitan mereka.

3. TINGKATAN JARH DAN LAFADZ-LAFADZNYA

a). Lafadz yang menunjukkan lunak (yaitu yang paling ringan jarhnya). Contohnya, fulanun layyinun al-hadis (si Fulan hadisnya linak), atau fihi maqalun (di dalamnya diperbincangkan).
b). Lafadz yang menunjukkan tidak dapat dijadikan sebagai hujjah, atau yang serupa. Contohnya, fulanun la yuhtajju bihi (si Fulan tidak bisa dijadikan sebagai hujjah), atau dla’if (lemah), lahu manakir (dia hadisnya munkar).
c). Lafadz yang menunjukkan tidak bisa ditulis hadisnya, atau yang lainnya. Contohnya, fulanun la yuktabu haditsuhu (si Fulan hadisnya tidak bisa dicatat), la tahillu riwayatu ‘anhu (tidak boleh meriwayatkan hadis darinya), dla’if jiddan (amat lemah), wahn bi marratin (orang yang sering melakukan persangkaan).
d). Lafadz yang menunjukkan adanya tuduhan berbuat dusta, atau yang sejenisnya. Contohnya, fulanun muhtammun bi al-kadzib (si Fulan orang yang dituduh berbuat dusta), atau muthammun bi al-wadl’I (orang yang dituduh berbuat palsu), atau yasriqu al-hadis (yang mencuri hadis), atau saqithun (gugur), atau matruk (ditinggalkan), atau laisa bi tsiqatin (tidak tsiqah).
e). Lafadz yang menunjukkan adanya perbuatan dusta, atau yang semacamnya. Contohnya, kadzdzab (pendusta), atau dajjal, atau wadla’ (pemalsu), atau yukadzdzibu (didustakan), atau yadla’u (pembuat hadis palsu).
f). Lafadz yang menunjukkan adanya mubalaghah (tingkatan yang amat berat) dalam perbuatan dusta. Dan ini tingkatan yang paling buruk. Contohnya, fulanun akdzabu an-nas (si Fulan itu orang yang paling pendusta), ilaihi al-muntaha fi al-kadzbi (dia orang yang menjadi pangkalnya dusta), hawa ruknu al-kadzbi (dia orang yang menjadi penopang dusta)

Baca Juga: